Kamis, 30 April 2015

sajak sederhana



2 sosok yang ku sebut “mu” dan “nya”
Tepat 8 bulan yang lalu, kau kenalkan dirimu dengan lontaran kata manis. Awalnya iseng, tapi perasaan ini lambat laun mulai aneh. Dia menjelma menjadi sosok yang mendramatisir. Bisa kalian tebak. Yah, CINTA. Apa lagi ? apa masih ada kata lain? Aku rasa hanya itu yang selalu hadir mengusik hati insan yang sedang tak menentu. Kadang rindu, kadang benci, kadang bahagia. Berbagai rasa teracik. Hati orang terotak-atik. Sangat lihai membongkar. Tapi kadang tak tahu cara memasang kembali.
Dan tepat di bulan ke 2 awal perkenalan. Kau malah pamit untuk pergi. Katamu, hanya 2x melewati puasa. Tak apa. Aku masih bisa mengiyakan. Belum banyak berharap merajut asa. Kupikir kau masih sama dengan buaya. Namun kau coba menjahit prasangka buruk ku padamu yan semakin menganga. meski hanya lewat bias suara, nyaris sempurna. Menutupi kain hitam yang sobek di ambang kegelisahanku. NICE ! kini, kau ku anggap arjunaku.
Sayang, semua berjalan tak sesuai rencana, rencana yang kau tata secara mapan untuk seorang gadis yang larut dalam penantian. Ku mulai merasa bosan dengan segala aktivitas yang itu-itu saja. Sosok nyatamu kita tak lagi Nampak. Ku rasa, kau terlalu jauh disana. Kesanggupanku menyerah sebab cita yang kau kejar di pulau seberang.
Di bulan ke 4, ku putuskan untuk usai. Kau mulai tak berarti. Kini ku buka hati dan cari pengganti. Kedatangan sosok kedua hadir tanpa kuduga. Kupanggil dia dengan sebutan “nya”. “nya” berparas nyaris serupa denganmu. Mungkin ini teguran? atau hanya kebetulan? Kupastikan ada perbedaan.
Kutilik “nya” lebih lama. Satu, bahkan sampai lima. Mulai dari gaya, nama, rumah, cita, bahkan usia. Untuknya tak sama. Ternyata “nya” lebih muda. Kata cinta terlontar lagi pada lisan “nya”. Lantas aku harus apa? Menghindar atau malah menerima? Tak tahu harus kemana arah. Kulakonkan saja sesuai alur cerita.
Selepas masa, kau semakin Nampak pada sosok “nya”. Gila! Ku ingat kembali padamu. Berniat lupa, malah semakin terpana karena “nya”. Jadi kuputuskan untuk menghindari “nya”.
Memasuki bulan ke 6, aku sadar, hatiku merengek. Merontah meminta kata kembali segera tiba untuk menarikmu ada disini. Laraku Memecahkan segala keragu-raguan padamu. Kuakui, kerinduanku hadir kembali.
Ku cari kabarmu dengan berbagai cara. Walau dengan susah payah. Keteleponmu beberapa kali. Tapi nihil. Saat kecewa mulai merasuki, kau baru mengucap sepatah kata. “halo” itu yang pertama kuraba. Kita pun berlama-lama dalam beberapa saat lewat pantulan suara. Ada yang berubah. Suara, bahasa, bahkan cintamu tak lagi sama. Responmu hanya itu-itu saja. “tidak” “ia” “tidak”  “ia” “tidak”  “ia”.  Membuat batinku semakin melemah. Tak apa, Kusadar, ini semua karena karma. Acuhku kini berbalas. Kini, kau menjadi “ku” dulu.
Sementara “nya” tak henti mengejar. Bagai elang yang merindukan camar. Semakin memberi asa dengan gencar.  Aku mencoba menghindar, namun sebentar. Pada sosok “nya” yang semakin mecari kepastian. Kepastian akan suatu hubungan. Yang akan berujung pada ikatan pernikahan. kuputuskan untuk memberi “nya” harapan. Meski hanya harapan semu pastinya. Mungkin ini hanya sebatas kasihan. Maaf “nya” kau ku jadikan pelarian.
                                                                                      Created by :
                                                                                      Reski Amelia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar