2 sosok yang ku sebut “mu” dan “nya”
Tepat 8 bulan yang lalu, kau kenalkan dirimu
dengan lontaran kata manis. Awalnya iseng, tapi perasaan ini lambat laun mulai
aneh. Dia menjelma menjadi sosok yang mendramatisir. Bisa kalian tebak. Yah,
CINTA. Apa lagi ? apa masih ada kata lain? Aku rasa hanya itu yang selalu hadir
mengusik hati insan yang sedang tak menentu. Kadang rindu, kadang benci, kadang
bahagia. Berbagai rasa teracik. Hati orang terotak-atik. Sangat lihai
membongkar. Tapi kadang tak tahu cara memasang kembali.
Dan tepat di bulan ke 2 awal perkenalan. Kau malah
pamit untuk pergi. Katamu, hanya 2x melewati puasa. Tak apa. Aku masih bisa
mengiyakan. Belum banyak berharap merajut asa. Kupikir kau masih sama dengan
buaya. Namun kau coba menjahit prasangka buruk ku padamu yan semakin menganga.
meski hanya lewat bias suara, nyaris sempurna. Menutupi kain hitam yang sobek
di ambang kegelisahanku. NICE ! kini, kau ku anggap arjunaku.
Sayang, semua berjalan tak sesuai rencana, rencana
yang kau tata secara mapan untuk seorang gadis yang larut dalam penantian. Ku
mulai merasa bosan dengan segala aktivitas yang itu-itu saja. Sosok nyatamu
kita tak lagi Nampak. Ku rasa, kau terlalu jauh disana. Kesanggupanku menyerah
sebab cita yang kau kejar di pulau seberang.
Di bulan ke 4, ku putuskan untuk usai. Kau mulai
tak berarti. Kini ku buka hati dan cari pengganti. Kedatangan sosok kedua hadir
tanpa kuduga. Kupanggil dia dengan sebutan “nya”. “nya” berparas nyaris serupa
denganmu. Mungkin ini teguran? atau hanya kebetulan? Kupastikan ada perbedaan.
Kutilik “nya” lebih lama. Satu, bahkan sampai
lima. Mulai dari gaya, nama, rumah, cita, bahkan usia. Untuknya tak sama.
Ternyata “nya” lebih muda. Kata cinta terlontar lagi pada lisan “nya”. Lantas
aku harus apa? Menghindar atau malah menerima? Tak tahu harus kemana arah.
Kulakonkan saja sesuai alur cerita.
Selepas masa, kau semakin Nampak pada sosok “nya”.
Gila! Ku ingat kembali padamu. Berniat lupa, malah semakin terpana karena
“nya”. Jadi kuputuskan untuk menghindari “nya”.
Memasuki bulan ke 6, aku sadar, hatiku merengek.
Merontah meminta kata kembali segera tiba untuk menarikmu ada disini. Laraku
Memecahkan segala keragu-raguan padamu. Kuakui, kerinduanku hadir kembali.
Ku cari kabarmu dengan berbagai cara. Walau dengan
susah payah. Keteleponmu beberapa kali. Tapi nihil. Saat kecewa mulai merasuki,
kau baru mengucap sepatah kata. “halo” itu yang pertama kuraba. Kita pun
berlama-lama dalam beberapa saat lewat pantulan suara. Ada yang berubah. Suara,
bahasa, bahkan cintamu tak lagi sama. Responmu hanya itu-itu saja. “tidak” “ia”
“tidak” “ia” “tidak” “ia”.
Membuat batinku semakin melemah. Tak apa, Kusadar, ini semua karena
karma. Acuhku kini berbalas. Kini, kau menjadi “ku” dulu.
Sementara “nya” tak henti mengejar. Bagai elang
yang merindukan camar. Semakin memberi asa dengan gencar. Aku mencoba menghindar, namun sebentar. Pada
sosok “nya” yang semakin mecari kepastian. Kepastian akan suatu hubungan. Yang
akan berujung pada ikatan pernikahan. kuputuskan untuk memberi “nya” harapan.
Meski hanya harapan semu pastinya. Mungkin ini hanya sebatas kasihan. Maaf
“nya” kau ku jadikan pelarian.
Created
by :
Reski
Amelia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar